Pandangan dan Pengetahuan
Tidak ada diskusi
tentang Ali dan tasawuf yang sempurna tanpa membicarakan konsep pengetahuan
yang orang miliki tentang Tuhan di dunia ini. Dalam suatu pengertian, ration
d’etre tasawuf adalah untuk merobek hijab-hijab yang memisahkan manusia dari
Tuhan di dunia ini; untuk menyaksikan dunia ini sepenuhnya sebagaimana apa
dilihat secara transparan. Maka itu, suatu ketika Ali diriwayatkan telah
berkata, “Sekiranya hijab-hijab diangkat, niscaya keyakinanku tidak akan
bertambah.” Kita bisa menganggap hal ini sekaitan dengan hadis tentang empat
khalifah, yang masing-masing mereka menyatakan bagaimana mereka melihat Tuhan
sekaitan dengan dunia. Tiga khalifah pertama mengatakan bahwa mengenai sesuatu,
mereka melihat Allah bersamanya, sebelumnya, dan di baliknya. Maka Ali berkata,
“Ketika aku melihat sesuatu, aku melihat Allah.”[i] Ini adalah ilustrasi
mengenai tingkatan pengetahuan yang siapa pun bisa memperolehnya di dunia ini.
Ketika Ali berbicara
tentang mengangkat hijab, sesungguhnya ia tengah membicarakan tentang
mengangkat hijab makhluk Allah, hijab lahiriah. Keyakinannya tidak akan
bertambah karena hijab batiniah telah diangkat. Demikian juga, katanya, “Aku
tidak menyembah Tuhan yang tidak aku lihat.”[ii] Semua pernyataan yang dirujuk
ini, bukan melihat dalam pengertian biasa, melainkan “mata batin” dalam diri
manusia, mata Hati, atau intelek. Ini apa yang tengah Ali rujuk ketika ia
berkata, “Allah tidak memberikan sesuatu yang lebih berharga ketimbang
Intelek.”[iii]
Pada seorang wali
seperti Ali, mata ini terbuka lebar, dan ia menyaksikan segala sesuatu,
memikirkannya, dan karena itu, ia melihat segala sesuatu dalam Allah. Inilah
mengapa ia membuat pernyataan tegas bahwa ia tidak menyembah Tuhan yang tidak
ia lihat, dan mengatakan bahwa ia tidak melihat segala sesuatu selain Allah.
Ini bukanlah persoalan melihat dalam pengertian biasa, dan kaum Sufi mencela
siapa pun yang mendakwa melihat Allah dengan dua mata (fisik)nya. Alih-alih,
kita harus memahami penglihatan dalam makna simbolis. Karena kita mengindentifikasi
penglihatan lebih dari indra manapun dengan mengetahui sesuatu dan memahaminya,
esoterisme Islam berbicara dalam bahasa penglihatan untuk menyampaikan dan
memberikan pengetahuan yang diperoleh dengan mata hati.
Manusia Universal
Konsep al-insan al-kamil,
atau Manusia Universal, adalah konsep yang rumit dalam tasawuf. Menurut
kosmologi Sufi, dunia ini dalam totalitasnya merupakan menifestasi Nama-nama
Tuhan. Dalam penciptaan, hanya manusia sebagai lokus bagi Nama-nama Ilahi,
sementara makhluk lainnya hanya memanifestasikan sejumlah Nama atau Kualitas
Tuhan tertentu namun tidak pernah semuanya. Nabi saw mengatakan bahwa manusia
diciptakan dalam citra Tuhan dan kita menemukan di dalam al-Qur’an, Kami
tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami (QS. Al-Anbiya’ [21]: 21).
Di sini bukan
tempatnya untuk membicarakan Manusia Universal; apa yang membuat kami tertarik
adalah bagaimana doktrin ini, yang mencerminkan kebenaran abadi, yang dikenal
oleh para generasi sebelumya sekalipun tidak pernah terrumuskan sepenuhnya,
terkait dengan Ali. Dalam sebuah syair yang dinisbatkan kepada Ali:
Obatmu ada dalam
dirimu, tetapi engkau tidak menyadari; penyakitmu ada dalam dirimua, tetapi
engkau tidak melihatnya
Dan engkau adalah
kitab yang nyata dengan menunjukkan huruf-hurufnya semua yang tersembunyi
Dan engkau mengira
dirimua sendiri jagat kecil, tidak jagat raya (makrokosmos) terbungkus dalam
dirimua[iv]
Obat yang dibicarakan
adalah kemampuan setiap orang untuk memiliki kesadaran akan pengetahuan hakiki,
yang sebetulnya suatu ingatan dalam arti Platonisnya. Ia merupakan suatu
penemuan ulang atas fitrah, atau norma yang diatasnya manusia diciptakan.
Sementara, penyakit yang dibicarakan adalah jiwa rendah, yang menarik kita ke
dunia ini melalui hasrat dan kemalasan, yang menghijabi kita dari realitas.
Baris kedua bisa dipahami dalam sorotan al-Qur’an, Kami akan memperlihatkan
kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri
mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Dia adalah kebenaran
(al-haq) (QS. Fushshilat [41]: 53).[v]
Tanda-tanda
makrokosmos disebutkan bersama dengan pasangan mereka dalam diri manusia, dan
ayat kedua di atas menunjukkan bahwa tanda-tanda batin bisa mengantarkan kita
kepada semua yang tersembunyi dalam diri kita (al-mudhmar). Ayat terakhir
adalah pernyataan ringkas dari manusia sebagai lokus manifestasi seluruh Nama
Tuhan. Syair ini adalah salah satu pernyataan paling awal akan gagasan yang
sama yang Sufi bicarakan ketika mereka berkata, “Alam semesta adalah manusia
besar sedangkan manusia adalah alam semesta kecil.” Segala sesuatu yang
terkandung dalam makrokosmos (al-kawn al-kabir, alam semesta) juga terkandung
dalam mikrokosmos (al-kawn ash-Shaghir, manusia). Ini artinya, manusia, dalam
posisi sentralnya di alam semesta, mempunyai kemampuan mengetahui
prinsip-prinsip segala sesuatu baik secara sapiental dan eksistensial,
bersumber dari fakta bahwa setiap objek ilmunya memiliki padanan salam dirinya
sendiri yang bersumber dari prinsip yang sama, dan di sini kita tengah merujuk
pada Nama-nama dan Kualitas Ilahi.
Ada juga hadis
enigmatik yang disandarkan kepada Ali: “Seluruh al-Qur’an terkandung di dalam
Surah al-Fatihah; semua kandungan surah ini terkandung dalam kalimat basmalah:
Bismillahirrahmanirrahim; semua kandungan bismillahirrahmanirrahim terkandung
dalam huruf ba’; dan semua kandungan huruf ba’ ada pada titik di bawahnya.
Akulah (Ali) titik di bawah ba’ itu”.[vi]
Titik di bawah ba’
menggambarkan titik temu antara pusat horizontal dan vertikal realitas, alif
dalam iqra’ dan ba’ dalam bismi rabbika (“bacalah dengan nama Rabb-mu”) ayat
pertama yang diturunkan kepada Nabi.[vii] Palang ini adalah lambang Manusia
Sempurna. Garis horizontal dari palang (salib) menggambarkan kesempurnaan
manusia di tingkat level wujud ini, sedangkan garis vertikal adalah realisasi
keadaan-keadaan wujud lain. Keadaan-keadaan ini diperingatkan, dalam ekspansi
integral, dalam pengertian ganda “keluasan” (horizontal) dan “ketinggian”
(vertikal).[viii] Ali tengah menyatakan dalam bahasa perlambang bahwa ia telah
merealisasikan maqam ini. Demikian juga orang bisa melihat poin tersebut
sebagai prinsip semua tulisan, karena itu, secara simbolik sebagai prinsip
segala manifestasi. Ketika mengulas subjek ini, Syaikh Ahmad Alawi menulis:
Setiap kali saya
membicarakan Titik yang saya maksud adalah Rahasia Esensi yang dinamakan
Kesatuan Persepsi (wahdat asy-syuhud) dan setiap kali saya membicarakan [huruf]
alif, yang saya maksud adalah Zat Yang Tunggal (wahid al-wujud), Dominikal
Esensi. Dan setiap kali saya membicarakan huruf ba’, yang saya maksud adalah
Manifestasi Ultimat, yang diistilahkan Ruh Tertinggi, yang setelah itu muncul
huruf-huruf sisanya, kemudian kata-kata tunggal, kemudian pembicaraan secara
umum, semua dalam hierarki.[ix]
Hierarki wujud
disimbolkan dengan manifestasi baris, huruf, dan kata-kata, yang semua itu
bersumber dari titik principal. Ali mengidentifikasi dirinya sebagai titik itu
untuk mengekspresikan identitasnya sendiri dengan Esensi.
Metafisika
Nahjul Balaghah
dipenuhi dengan pasase-pasase yang merupakan jawaban-jawaban watak teologis Ali
atas pertanyaan-pertanyaan ihwal hakikat Tuhan dan alam semesta. Secara khusus,
kita menemukan deskripsi-deskripsi yang fasih mengenai tauhid, atau doktrin
Keesaan Ilahi, yang diekspresikan dalam bahasa Arab yang keringkasan dan
kekuatannya hampir tidak ada bandingannya. Berikut ini merupakan pembahasan
ringkas ihwal Zat Tuhan:
Maka barangsiapa
melekatkan suatu sifat kepada Allah berarti ia mengakui keserupaan-Nya, dan
barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa
memandang-Nya dua, ia mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui
bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak
mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia
mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya
(berarti) ia mengatakan jumlah-Nya. Barangsiapa mengatakan "dalam apa la
berada", (berarti) ia berpendapat bahwa la bertempat, dan barangsiapa
mengatakan "di atas apa la berada" maka ia beranggapan bahwa la tidak
berada di atas sesuatu lainnya.[x]
Melalui penafian atas
segala sesuatu, kita bisa berkata tentang Allah, Ali sepenuhnya berbicara
tentang Di Balik-Wujud, atau Non-Wujud, merujuk pada Zat yang di luar
deskripsi. Selanjutnya Ali terus melanjutkan pembahasan sejumlah sifat Allah:
Ia maujud tetapi tidak
melalui fenomena muncul menjadi ada (hadits). Ia ada (mawjud) tetapi bukan dari
sesuatu yang tak ada (‘adam). la bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam
kedekatan fisik (muqaranah). la berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam
keterpisahan fisik (muzayalah). la berbuat tetapi tanpa konotasi gerakan dan
alat. la melihat sekalipun tak ada dari ciptaan-Nya yang dilihat. la menyendiri
(mutawahhid) ketika tidak ada sesuatu pun yang bersama dengan-nya yang dekat
dan Ia akan kehilangan karena ketiadaannya.[xi]
Pasase di atas ini
bisa dilihat sebagai deskripsi dari Sifat-sifat Ilahi, yang menghubungkan Allah
dengan makhluk-Nya, bagaimana Allah mempengaruhi tetapi tidak dipengaruhi,
penggerak yang tidak bergerak. Pasase berikut menjelaskan hubungan ini secara
sebaliknya, menjelaskan bagaimana manifestasi mengantarkan kita kembali pada
Prinsip.
Dengan indra
pemberian-Nya kepada organ-organ indra (masya’ir), diketahui bahwa Ia tidak
punya organ-organ indra. Dengan substansi pemberian-Nya (tajhir), diketahui
bahwa Dia tidak punya substansi. Dengan oposisi penyebabnya (mu’addah) di
antara segala sesuatu diketahui bahwa Dia tidak mempunyai afiliasi (qarin). Ia
memperlawankan kegelapan dengan cahaya, kesamaran dengan kejelasan, kecairan
dengan kepadatan, dan panas dengan kedinginan. Ia menggabungkan segala sesuatu
tersebut, yang saling bermusuhan satu sama lain, dan memisahkan mereka yang
dekat. Mereka membuktikan (eksistensi) Pemisah (mufarriq) dengan pemisahan
mereka dan Penggabung mereka (muallif) melalui titik gabung mereka. Ini
merupakan (pengertian) Firman-Nya –Dia adalah Mahakuasa dan Mahaagung, “Dan
segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan
kebesaran Allah” (QS. Adh-Dhariyat [51]: 49).[xii]
Di sini Ali
menjelaskan tentang dualitas fundamental semua manifestasi, ranah oposisi yang
merupakan manifestasi Tuhan, yang itu sendiri tidak pada setiap jenis oposisi.
Dalam tiga pasase ringkas ini, kami mempunyai suatu pembahasan ihwal Prinsip
dalam dirinya sendiri: Prinsip ketika ia terkait dengan Manifestasi, dan
Manifestasi ketika ia terkait dengan Prinsip.
Ali dan Tafsir
al-Qur’an
Sayangnya, tidak banyak
yang tersisa dari tafsir Ali tentang al-Qur’an. Ia menulis suatu tafsir
esoteris tentang al-Qur’an, yang sekarang hilang, dan yang masih bertahan dalam
kepingan-kepingan dalam tafsir Ja’far Shadiq.[xiii] Bahkan tanpa tubuh material
yang besar secara langsung tidak dapat dinisbatkan kepadanya, kita masih bisa
mendapatkan sebuah gagasan tentang pemahamannya tentang al-Qur’an. Nabi saw
bersabda, “Wahai manusia, di antara kalian adalah orang yang berjihad dengan
tafsir (ta’wil) al-Qur’an sebagaimana aku berjuang dengan wahyunya
(tanzil)”,[xiv] merujuk kepada Ali. Ali sendiri berkata, “Tak satu pun ayat
yang diturunkan tanpa aku mengetahuinya untuk apa ia diturunkan, dan di mana ia
diturunkan”.[xv] Tokoh puncak mufasir al-Qur’an, Ibnu Mas’ud berkata, “Al-Qur’an
telah diwahyukan dengan tujuh bacaan. Setiap bacaan mempunyai makna lahir dan
makna batinnya. Ali bin Abi Thalib mengetahui makna lahir dan makna
batinnya”.[xvi]
Kaum Sufi selalu
meyakini bahwa setiap ayat al-Qur’an memiliki keyakinan atas keyakinan,
penyingkapan kebenaran-kebenaran lebih dalam ketimbang pengertian permukaan
dari teks, suatu pengertian yang tentu saja juga benar pada levelnya sendiri.
Sebagian telah menunjukkan empat level pengertian, yang lainnya tujuh.
Angka-angka ini harus dipahami secara metaforis, tentu saja, karena secara
prinsip pengertian-pengertian setiap ayat tidaklah terbatas. Ibnu Arabi
mengatakan bahwa setiap kali seorang membaca sebuah ayat, makna baru harus
diperjelas. Karena itu, ketika Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Ali mengetahui
makna lahir dan batin ayat, artinya bahwa ia telah memenuhi syarat untuk
menafsirkan simbol-simbol (ayat) al-Qur’an.
Yang nyata adalah
terbatas dan dibatasi para apa yang bisa kita katakan tentangnya, namun yang
tersembunyi mencakup segala sesuatu yang nyata tidak termasuk, dan karena itu,
tidak terbatas, sedangkan ruang lingkup tafsiran mengembangkan semua jalan
hingga ke level Tuhan. Hadis tentang titik di bawah ba’ adalah cukup
menunjukkan apa kata-kata al-Qur’an, bahkan huruf-hurufnya, harus mengatakan
tentang kebenaran-kebenaran yang sulit atau mustahil untuk diungkapkan secara
simbolis, dan bahwa Ali mengetahui bahasa simbol ini. Menganggap volume
substansial dari materi yang kita miliki dapat dinisbatkan kepada para sahabat
seperti Ibnu Mas’ud, dan Ubay bin Ka’ab, yang masing-masing adalah pemimpin
mazhab Mekah, Iraq, dan Madinah, dan fakta bahwa orang-orang ini mempunyai
penghormatan tinggi terhadap ilmu Ali mengenai al-Qur’an,[xvii] siapa pun hanya
bisa mengasumsikan bahwa sangat perhatian pada ajaran makna-makna esoteris
hingga ke tingkat yang lebih kecil, terpilih, dan meninggalkan ajaran tafsir
kepada masyarakat umum kepada para sahabat lain.
* * *
Dalam analisis
historis sekarang, fokus pada tokoh-tokoh besar individu (dan tidak ada tokoh
historis yang lebih besar ketimbang Nabi; tentang ini, mukmin dan bukan mukmin
bisa sepakat) menganggap apa yang mereka tinggalkan dalam konteks materi
tertulis atau jejak-jejak fisik lainnya. Itulah mengapa dalam kesarjanaan
modern jika ia tidak dituliskan, ia dipandang tidak benar-benar terjadi.
Barangkali fakta ini,
berikut dengan efek-efek luar biasa misi Nabi yang ada dalam ranah temporal,
bisa menerangkan sedikitnya kesarjanaan yang dicurahkan kepada Ali, dan
khususnya, peran spiritualnya. Ajaran-ajaran pada masa-masa tersebut sebagian
besar melalui lisan dan semi-rahasia. Maka itu, ula diwarisi dengan dokumentasi
fisik yang sedikit dari periwayatan ilmu yang sebenarnya yang terjadi antara
Nabi dan para sahabatnya, khususnya ke Ali, dan antara para sahabat dan
generasi berikutnya (tabi’in), dan seterusnya. Baru secara bertahap ilmu-ilmu
ini, baik eksoteris (seperti hadis) dan esoteris (seperti psikologi Sufi) mulai
ditulis.
Sebenarnya, dari
perspektif Sufi, informasi ini hidup, bagus, dan mudah diakses serta handal,
akan tetapi sumber otoritas Sufi, dan tradisi lisan yang tak terpatahkan, yang
berperan sebagai starting point dan kriteria akhir dari sesuatu yang tertulis,
mungkin masih tidak cukup baik bagi para periset modern. Bagaimanapun
semestinya ini bukan masalah, dengan memperitimbangkan bahwa bahkan di
masa-masa kita sangat sedikit teks yang menjelaskan praktik aktual dari tasawuf
sekalipun praktik-praktik tersebut tetap hidup dan baik di seluruh dunia.
Kami menyebutkan hal
ini karena para periset seharusnya perlu memperhatikan secara lebih serius
aspek-aspek tasawuf, yang tidak terdokumentasi dengan cermat.
Dalam makalah ini,
kami telah meliput sebagian besar serangan-serangan luas. Sekalipun menyinggung
banyak ucapan penting dan ajaran-ajaran Ali terkait dengan esoterisme Islam
belakangan, ruang lingkup mekalah ini tidak membiarkan kita untuk masuk ke
pembahasan yang lebih rinci mengenai pengertian dan penyebaran ucapan-ucapan
ini dalam tradisi esoteris Islam. Misalnya, dalam mazhab Ibnu Arabi, dalam
tokoh-tokoh seperti Abdul Razzaq Kasyani dan Dawud Qaysari, orang mendapatkan
rujukan yang sering kepada Ali dalam konteks diskusi-diskusi metafisis yang
subtil. Hal ini seyogyanya tidak ditafsirkan sebagai semata-mata sejumlah orang
saleh atau sentimentil terikat pada seorang tokoh keagamaan yang agung.
Sebaliknya, para
metafisikawan belakangan mengetahui secara utuh bahwa mereka tengah menjelaskan
hakekat-hakekat yang untuknya Ali telah berbicara dengan cara yang lebih
sintesis dan simbolis, yang sepenuhnya sejalan dengan fungsinya juga dengan
kedekatannya pada wahyu orisinil. Ini hanya sebuah contoh. Tidak ada keraguan
bahwa studi menyeluruh atas literatur Sufi dan tradisi lisan menyangkut Ali
akan terrekam rapat-rapat pada seorang ulama selama beberapa tahun.
Kita jangan lupa bahwa
dalam konteks tasawuf, kita tengah membicarakan tentang rangkaian kedua dalam
suatu rantai yang berkesinambungan dan hidup yang terdiri hanya empat atau lima
lusin rangkaian-rangkaian tersebut, dan yang disuplemenkan oleh suatu tradisi
tulisan yang ekstensif. Jika kita berharap mendapatkan pemahaman nyata apa pun
mengenai apa yang muncul belakangan dalam tradiri ini, kita semestinya melihat
lebih dekat sumber dan tidak mengejar “pinjaman-pinjaman” dan sejenisnya.
Keterangan yang
disajikan dalam esai ini semestinya menunjukkan bahwa doktrin paling utama
tasawuf bukan hal baru dalam konsepsi mereka tetapi hanya dalam formulasi
mereka, dan bahwa Ali mempunyai pengetahuan utuh dan integral akan
realitas-realitas yang akan hal itu para Sufi belakangan biasa berbicara
menggunakan penjelasan-penjelasan doktrin yang pelik dan sulit. Kami harap bahwa
di masa depan peran tokoh kolosal ini tidak akan terus melewati dalam
keheningan, bahwa esai ringkas ini telah membangun hubungan Ali dengan jantung
tradisi Islam dalam minat pembaca, yakni transmisi dan asimilasi kebenaran
menyangkut watak Realitas Ultimat, dan sumbernya adalah wahyu yang diberikan
kepada Nabi. [Jurnal Al-Huda No.16, Vol VI, Th. 2008]
[i] Ada versi hadis
lain yang menyatakan bahwa Ali meringkas tiga pertanyaan sebelumnya secara
bersama. (Kuliah S.H. Nasr)
[ii] Allamah
Thabathaba’i. A Shi’ite Anthology. Diedit dan diterjemahkan oleh William
Chittick, London 1981, hal. 38.
[iii] Nicholson, vol.
4, hal. 643.
[iv] Dikutip dari S.H.
Nasr, Ideal and Realities of Islam, Kairo, 1989, hal. 63.
[v] Kuliah S.H. Nasr,
Musim Gugur 1997.
[vi] Guenon, Rene,
Syimbolism of the Cross, London, 1975, hal. 6.
[vii] Lings, Martin, A
Sufi Saint of the Twentieth Century, Cambridge, 1993, hal. 149.
[viii] Thabathaba’i,
hal. 30.
[ix] Ibid.
[x] Ibid, hal. 39.
[xi] Kuliah S.H. Nasr,
Musim Gugur 1997.
[xii] Abu Nu’aym Ahmad
ibn Abdallah, Hilyat al-Awliya’, Beirut, 1967, hal. 67.
[xiii] Dzahabi,
Muhammad Husayn, Al-Tafsir wa al-Mufassirun, Kairo, 1995, hal 96.
[xiv] Ibid, hal. 97.
[xv] Ada hadis dari
Ali yang rujukannya belum saya dapatkan untuk tulisan ini, yang isinya ia
mendorong manusia untuk mempelajari ilmu huruf-huruf Arab.
[xvi] Dzahabi, Bab
tentang “Madrasah-madrasah Tafsir”.
[xvii] Ibnu Abbas
berkata, “Apa saja yang telah aku ambil mengenai tafsir, semuanya berdasarkan
otoritas Ali”. Dzahabi, hal. 96.
Pandangan dan Pengetahuan
Reviewed by muhammad ajib
on
08.26
Rating:
Tidak ada komentar: