Kultus dan Kenabian
Posted in Akidah by Ali Reza
Salah satu definisi “kultus” dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah penghormatan secara berlebih-lebihan kepada orang, paham, atau
benda. Pengertian ini masih sangat umum dan tidak menjelaskan lebih lanjut
beserta batasan-batasannya tentang apa maksud “berlebih-lebihan”; sehingga
belum bisa menjadi ukuran mutlak sebagai perbuatan yang tidak baik.
Dalam salah satu tulisannya, Dr. Muhsin Labib menyebut
sebuah kelompok agama dominan Saudi yang melarang kita untuk mengkultuskan nabi
dalam bentuk: tambahan sayidina dalam selawat, kalimat pujian kepada nabi dan
keluarganya, maulid dan ziarah nabi. Hal itu mereka anggap sebagai sesuatu yang
bidah dan tindakan “berlebih-lebihan” sehingga dapat menjerumuskan pelakunya
kepada kesyirikan.
Tapi di sisi lain, keluarga kerajaan dan emir di negara
Teluk tanpa risih digelari—sebelum nama-nama mereka—dengan tambahan sumuw
al-amîr (سـمـو الأمـيـر, paduka pangeran), jalâlah al-malik (جـلالـة الـمـلـك,
yang dipertuan agung raja), ma’âli walî al-’ahd (معالي ولي العهد,
junjungan putra mahkota), dan namanya diakhiri dengan doa hafizhahullah (semoga
Allah melindunginya). Manakah yang kultus? Apakah memuji nabi yang kedudukannya
telah ditinggikan Allah termasuk pengkultusan?
Dalam kajian akidah, kenabian (nubuwah) merupakan tema
lanjutan setelah pembahasan ketauhidan, sekaligus juga pembahasan pendahuluan
sebelum memasuki tema kepemimpinan dan hari akhir. Dalam bahasan ketauhidan
kita tahu bahwa tujuan penciptaan manusia bukan hanya terhenti untuk dunia
beserta kehidupan materinya saja, tetapi berlanjut terus pada alam yang kekal
dengan berbekal spiritual yang lebih tinggi.
Lalu karena kelembutan-Nya, Allah Swt. memberikan panduan
dan hukum-hukumnya yang sempurna yang disampaikan oleh para utusannya.
Kebutuhan akan pembimbing dan aturan merupakan hal yang rasional, karena sejak
lahir pun manusia butuh pembimbing dan undang-undang yang mengatur masyarakat.
Hanya saja, manusia biasa memiliki keterbatasan, sehingga undang-undang buatan
manusia pun akan mengalami amandemen atau perubahan.
Hanya Sang Khalik yang tahu secara penuh tentang seluruh
makhluk-Nya. Karena itulah Dia mengutus para nabi dalam kerangka institusi
kenabian. Manusia tidak memiliki hak untuk memilih pemimpin yang tugasnya
justru membimbing manusia. Jika manusia tidak memilihnya, maka itupun tidak
membuat lebih rendah, karena sifat kemuliaan melekat pada diri mereka yang
diberikan langsung oleh Allah Swt. Di antara syarat kenabian yang patut kita
ketahui, antara lain:
Pertama, kemaksuman. Artinya seorang nabi harus suci dari
segala macam dosa, dan tidak terbatas hanya saat menyampaikan perintah agama.
Segala perbuatannya hanyalah kehendak Allah dan diridai-Nya, bahkan ucapannya
pun wahyu. Ia tidak mungkin berbuat maksiat, melanggar perintah Allah, berbuat
salah, lupa, dan segala hal yang merendahkan.
Kedua, keilmuan. Seorang nabi harus mengetahui semua hukum
baik itu untuk kebahagiaan akhirat maupun dunia. Ia tidak mungkin jahil
terhadap persoalan apapun yang ditanyakan dan diperlukan manusia.
Ketiga, mukjizat, yakni perbuatan di luar kewajaran yang
terjadi dari sebab-sebab tak biasa. Hal itu diperolehnya dari Tuhan dan tidak
bisa dipelajari oleh manusia biasa, karena ia bukanlah sihir. Para nabi hanya
melakukan mukjizat setelah ada keharusan sebagai pembuktian kenabian.
Selain tiga poin syarat tersebut, seorang nabi harus
memiliki sifat sempurna seperti keberanian, kemampuan berpolitik, kepemimpinan,
kesabaran, kepandaian, dan kecerdasan. Karena jika ada sedikit saja kelemahan
maka ia tidak pantas untuk diikuti dan dapat menjadi pemakluman bagi manusia
yang mengikutinya untuk juga berbuat kesalahan dan itu bertentangan dengan
tujuan diutusnya kenabian. Kultus pada nabi, dalam arti memuja-muja dengan
kekosongan makna, tidak akan terjadi jika kita memahami konsep kenabian.
Setelah memiliki kaidah yang tepat tentang kenabian dan
kepemimpinan, maka kita tidak akan menganggap nabi atau imam sebagai Tuhan dan
patut mempertanyakan riwayat-riwayat janggal seperti nabi yang tidur dengan
seratus wanita dalam satu malam (1), nabi menampar malaikat maut (2), nabi lari
sambil telanjang (3), nabi dalam keadaan ragu (4), nabi membakar binatang, nabi
melukai dan mengutuk orang tak bersalah, setan datang mengganggu salat nabi dan
nabi mencekiknya (5), nabi bermuka masam, dan sebagainya.
Untuk menjelaskan bahwa para nabi manusia biasa, tidak perlu
dengan cara merendahkannya. Membaca kehidupan para anbiya yang beristri, makan,
dan tidur sudah cukup membuktikan bahwa mereka adalah manusia (basyar).
Wallahualam.
Kultus dan Kenabian
Reviewed by muhammad ajib
on
17.43
Rating:
Tidak ada komentar: