Ilmu Tauhid (Aqidah/Iman)
Ilmu Tauhid
(Aqidah/Iman) adalah hal yang paling penting yang harus dipelajari setiap
Muslim. Bahkan harus dipelajari lebih dulu sebelum kita mempelajari/melakukan
ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya. Bagaimana kita bisa
tergerak untuk melakukan ibadah jika dalam hati kita tidak ada iman? Bagaimana
kita bisa ikhlas dan khusyuk beribadah jika kita tidak tahu/tidak yakin akan
Allah dan sifat-sifatNya?
Banyaknya ummat
Islam di Indonesia yang menjadi murtad itu karena mereka nyaris tidak
mempelajari dan meyakini ilmu Tauhid sehingga akhirnya tidak tahu Sifat-sifat
Tuhan yang asli/sejati. Akhirnya mereka menyembah Tuhan yang sifatnya
berlawanan dari sifat Allah seperti menyembah 3 Tuhan dan sebagainya.
Pada Ilmu Tauhid ini
diasumsikan orang belum memiliki iman yang kuat kepada Allah, apalagi Al
Qur’an. Oleh karena itu dalilnya pun yang pertama dipakai adalah dalil
Akal/Logika (Aqli). Setelah beriman, baru dalil Naqli (Al Qur’an) dikemukakan.
Pada ilmu tentang Iman, maka Akal harus digunakan. Ada pun jika sudah beriman
dan mengenai fiqih misalnya kenapa kalau kentut bukan (maaf) pantat yang
dibasuh, tapi harus mencuci anggota badan lainnya, maka dalil Naqli (Al Qur’an
dan Hadits) yang harus dipakai. Pada Tauhid, Aqli harus dipakai. Pada Fiqih,
Naqli yang dipakai.
Karena itulah Allah
dalam Al Qur’an juga kerap menggunakan dalil Akal/Logika kepada kaum yang kafir
atau imannya masih lemah. Hanya orang yang berakal saja yang dapat pelajaran.
“…Dan tidak dapat
mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” [Ali
‘Imran 7]
Allah juga kerap
memakai ilmu pengetahuan seperti penciptaan langit dan bumi sebagai tanda bagi
orang yang berakal:
“Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” [Ali ‘Imran 190]
“dan pada pergantian
malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya
dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat
tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” [Al Jaatsiyah 5]
Lihat ayat Al
Waaqi’ah ayat 58 hingga 72. Allah menggunakan logika kepada manusia (termasuk
kita yang membaca surat tersebut) agar menggunakan akal kita:
“Maka terangkanlah
kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau
Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah 58-59]
“Kamukah yang
menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” [Al Waaqi’ah 72]
Allah menggunakan
logika dan perumpamaan-perumpamaan (Tamtsil/Ibarat) agar orang yang
berakal/berilmu meski dia belum beriman jadi berfikir dan beriman kepada Allah.
“Dan
perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya
kecuali orang-orang yang berilmu.” [Al ‘Ankabuut 43]
Baca juga ayat Al
Hasyr 21, Al Kahfi 45, Al Kahfi 54, Ar Ruum 58, Az Zumar 27, dsb. Ada 58 ayat
lebih tentang perumpamaan yang dikenal sebagai logika analogi.
Contoh perumpamaan
itu adalah ayat Al A’raaf 176, Al ‘Ankabuut 41, Al Baqarah 17, Al Baqarah 171,
Al Baqarah 261, Al Baqarah 264, dan sebagainya.
Keliru sekali jika
ada orang yang menolak sama sekali penggunaan dalil Akal atau Logika apalagi
jika itu ditujukan pada orang yang belum atau masih tipis imannya. Karena itu,
banyak orang-orang yang dulunya kafir, akhirnya masuk Islam. Bayangkan,
bagaimana mungkin orang mau mempercayai Al Qur’an (firman Allah) jika kepada
Allah saja dia belum beriman? Karena itulah pendekatan akal digunakan.
Berbagai firman
Allah seperti Afalaa Ta’qiluun, La’allakum Tatafakkaruun, Ulil Albaab merupakan
perintah Allah pada manusia untuk menggunakan akal atau fikiran termasuk dalam
beragama.
Sifat Allah itu
banyak/tidak terhitung. Namun seandainya ditulis 1 juta, 1 milyar, atau 1
trilyun, tentu kita tidak akan sanggup mempelajarinya bukan? Seorang ulama
menulis 20 sifat yang wajib (artinya harus ada) pada Tuhan/Allah. Jika tidak
memiliki sifat itu, berarti dia bukan Tuhan atau Allah. Minimal kita bisa
memahami dan meyakini 13 dari sifat tersebut agar tidak tersesat. Setelah itu
kita bisa mempelajari sifat Allah lainnya dalam Ama’ul Husna (99 Nama Allah
yang Baik)
Video Sifat 20 bisa
dilihat di sini:
Sifat-sifat itu
adalah:
1. Wujud (ada)
Allah itu Wujud
(ada). Tidak mungkin/mustahil Allah itu ‘Adam (tidak ada).
Memang sulit
membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika kita melihat pesawat terbang, mobil,
TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata semua itu terjadi
dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.
Jika benda-benda
yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh
lebih komplek.
Bumi yang sekarang
didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu
kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta
kilometer panjangnya. Matahari, dan 8 planetnya yang tergabung dalam Sistem
Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu
tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100
milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan
galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan
Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan Super Cluster ini
akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 Milyar
Tahun Cahaya!
Harap diingat, angka
30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang
teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.
Bayangkan, jika
jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya
dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar
tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran
ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.
Dalam Al Qur’an,
Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari,
bulan, dan lain-lain:
“Maha Suci Allah
yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga
padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]
Karena kita tidak
bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Meski kita
tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Pernyataan bahwa
Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui
keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.
Berapa banyak benda
yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu
ada?
Betapa banyak benda
langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak
pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?
Berapa banyak zakat
berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak
bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa melihatnya jika
meletakkan benda tersebut di bawah mikroskop yang amat kuat).
Berapa banyak
gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa
dilihat, tapi ternyata hal itu ada?
Benda itu ada, tapi
panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui
keberadaannya.
Kemampuan manusia
untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi tertentu, demikian
pula suara. Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat,
tapi dapat membutakan manusia. Demikian pula suara dengan frekuensi dan
kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu
menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan
Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui
keberadaan Sang Maha Pencipta!
Ada jutaan orang
yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai
penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol
bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada
pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di
kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu
terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi
kecelakaan lalu lintas.
Sebaliknya, bumi,
matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun
lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan.
Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak
matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang
mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu
terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang
telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda
tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa
Tuhan itu ada.
“Dia-lah yang
menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya
manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu
mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang
demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya)
kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]
“Tidaklah mungkin
bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan
masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]
Sungguhnya
orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:
“Allah lah Yang
meninggi-kan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia
berse-mayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar
hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan
tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan
Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]
“(yaitu) orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali Imron:191]
Artikel lengkap tentang
Bukti Tuhan itu Ada dapat anda lihat di www.media-islam.or.id
Hikmah: Kunci Iman
menyembah Allah. Kalau orang tidak mempercayai Allah itu ada, maka dia adalah
Atheist. Tidak mungkin bisa ikhlas dan khusyu’ menyembah Allah.
2. Qidam (Terdahulu)
Allah itu Qidam
(Terdahulu). Mustahil Allah itu Huduts (Baru).
“Dialah Yang Awal …”
[Al Hadiid:3]
Allah adalah
Pencipta segala sesuatu. Allah yang menciptakan langit, bumi, serta seluruh
isinya termasuk tumbuhan, binatang, dan juga manusia.
“Yang demikian itu
adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu..?” [Al Mu'min:62]
Oleh karena itu,
Allah adalah awal. Dia sudah ada jauh sebelum langit, bumi, tumbuhan, binatang,
dan manusia lainnya ada. Tidak mungkin Tuhan itu baru ada atau lahir setelah
makhluk lainnya ada.
Sebagai contoh,
tidak mungkin lukisan Monalisa ada lebih dulu sebelum pelukis yang melukisnya,
yaitu Leonardo Da Vinci. Demikian juga Tuhan. Tidak mungkin makhluk ciptaannya
muncul lebih dulu, kemudian baru muncul Tuhan.
3. Baqo’ (Kekal)
Allah itu Baqo’ (Kekal).
Tidak mungkin Allah itu Fana’ (Binasa).
Allah sebagai Tuhan
Semesta Alam itu hidup terus menerus. Kekal abadi mengurus makhluk ciptaannya.
Jika Tuhan itu Fana’ atau mati, bagaimana nasib ciptaannya seperti manusia?
“Dan bertawakkallah
kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati…” [Al Furqon 58]
“Semua yang ada di
bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan
kemuliaan.” [Ar Rahman:26-27]
Karena itu jika ada
“Tuhan” yang wafat atau mati, maka itu bukan Tuhan. Tapi manusia biasa.
Hikmah: Jika kita
mencintai Allah yang Maha Kekal dan selalu ada dan menjadikanNya teman serta
pelindung, niscaya kita akan tetap sabar meski kehilangan segala yang kita
cintai.
4. Mukhollafatuhu
lil hawaadits (Tidak Serupa dengan MakhlukNya)
Allah itu berbeda
dengan makhlukNya (Mukhollafatuhu lil hawaadits). Mustahil Allah itu sama
dengan makhlukNya (Mumaatsalaatuhu lil Hawaadits). Kalau sama dengan makhluknya
misalnya sama lemahnya dengan manusia, niscaya “Tuhan” itu bisa mati dikeroyok
atau disalib oleh manusia. Mustahil jika “Tuhan” itu dilahirkan, menyusui,
buang air, tidur, dan sebagainya. Itu adalah manusia. Bukan Tuhan!
Allah itu Maha
Besar. Maha Kuasa. Maha Perkasa. Maha Hebat. Dan segala Maha-maha yang bagus
lainnya.
“…Tidak ada
sesuatupun yang serupa dengan Dia…” [Asy Syuura:11]
Misalnya sifat
“Hidup” Allah beda dengan sifat “Hidup” makhluknya. Allah itu dari dulu,
sekarang, kiamat, dan hingga hari akhirat nanti tetap hidup. Sebaliknya
makhluknya seperti manusia dulu mati (tidak ada). Setelah itu baru dilahirkan
dan hidup. Namun itu pun hanya sebentar. Paling lama 1000 tahun. Setelah itu
mati lagi dan dikubur. Jadi meski sekilas sama, namun sifat “Hidup” Allah beda
dengan makhlukNya.
Demikian juga dengan
sifat lain seperti “Kuat.” Allah selalu kuat dan kekuatannya bisa menghancurkan
alam semesta. Sementara manusia itu dulu ketika bayi lemah dan ketika mati juga
tidak berdaya. Saat tidur pun manusia sama sekali tidak berdaya. Saat hidup pun
jika kena tsunami atau gempa apalagi kiamat, dia akan mati.
5. Qiyamuhu
Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya)
Allah itu Qiyamuhi
Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya). Mustahil Allah itu Iftiqoorullah
(Berhajat/butuh) pada makhluknya.
“.. Sesungguhnya
Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Al
‘Ankabuut:6]
“Dan katakanlah:
“Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu
dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan
agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” [Al Israa’ 111]
Di dunia ini, semua
orang saling membutuhkan. Bahkan seorang raja pun butuh penjahit pakaian agar
dia tidak telanjang. Dia butuh pembuat bangunan agar istananya bisa berdiri.
Dia butuh tukang masak agar bisa makan. Dia butuh pengawal agar tidak mati
dibunuh orang. Dia butuh dokter jika dia sakit. Saat bayi, dia butuh susu
ibunya, dan sebagainya.
Sebaliknya Allah
berdiri sendiri. Dia tidak butuh makhluknya. Seandainya seluruh makhluk
memujiNya, niscaya tidak bertambah sedikitpun kemuliaanNya. Sebaliknya jika
seluruh makhluk menghinaNya, tidaklah berkurang sedikitpun kemuliaanNya.
“Hai manusia,
kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak
memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” [ Faathir 15]
Hikmah: Tidak
sombong dan memohon hanya kepada Allah. Karena Manusia ketika lahir butuh
bantuan. Demikian pula ketika mati meski dia kaya dan berkuasa
6. Wahdaaniyah (Esa)
Allah itu Wahdaaniyah
(Esa/Satu). Mustahil Allah itu banyak (Ta’addud) seperti 2, 3, 4, dan
seterusnya.
Allah itu Maha
Kuasa. Jika ada sekutuNya, maka Dia bukan yang Maha Kuasa lagi. Jika satu Tuhan
Maha Pencipta, maka Tuhan yang lain kekuasaannya terbatas karena bukan Maha
Pencipta.
”Allah sekali-kali
tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan yang lain beserta-Nya.
Kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang
diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang
lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu” [Al Mu’minuun:91]
Katakanlah: “Dia-lah
Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan
yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tidak beranak
dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” [Al
Ikhlas:1-4]
Oleh karena itu,
ummat Islam harus menyembah Tuhan Yang Maha Esa/Satu, yaitu Allah. Tidak pantas
bagi ummat Islam untuk menyembah Tuhan selain Allah seperti Tuhan Bapa, Tuhan
Anak, Roh Kudus. Tidak pantas juga bagi ummat Islam untuk menyembah 3 Tuhan di
mana satu adalah yang Menciptakan, satu lagi yang merusak, dan terakhir yang
memelihara.
”Sesungguhnya Allah
tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari
syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan
Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An Nisaa’:48]
Hikmah: Tidak
mempersekutukan Allah
7. Qudrat (Kuasa)
Sifat Tuhan yang
lain adalah Qudrat atau Maha Kuasa. Tidak mungkin Tuhan itu ‘Ajaz atau lemah.
Jika lemah sehingga misalnya bisa ditangkap, disiksa, dan disalib, maka itu
bukan Tuhan yang sesungguhnya. Hanya manusia biasa.
”… Jikalau Allah
menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka.
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” [Al Baqarah:20]
”Jika Dia kehendaki,
niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk baru (untuk menggantikan
kamu). Dan yang demikian tidak sulit bagi Allah.” [Fathiir:16-17]
Hikmah: menyadari
kekuasaan Allah dan tawakal kepada Allah.
8. Iroodah
(Berkehendak)
Sifat Allah adalah
Iroodah (Maha Berkehendak). Allah melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya.
Mustahil Allah itu Karoohah (Melakukan sesuatu dengan terpaksa).
“…Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” [Huud:107]
“Allah Pencipta
langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu, maka Dia
hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]
“…Katakanlah : “Maka
siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki
kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]
Hikmah: tawakal
kepada Allah dan selalu berdoa kepada Allah
9. Ilmu (Mengetahui)
Allah itu berilmu
(Maha Mengetahui). Mustahil Allah itu Jahal (Bodoh). Allah Maha Mengetahui
karena Dialah yang menciptakan segala sesuatu.
Sedangkan manusia
tahu bukan karena menciptakan, tapi sekedar melihat, mendengar, dan mengamati.
Itu pun terbatas pengetahuannya sehingga manusia tetap saja tidak mampu
menciptakan meski hanya seekor lalat.
“Dan Allah memiliki
kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia
mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang
gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam
kegelapan bumi, dan tidak sesuatu basah atau kering, melainkan tertulis dalam
kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]
“Katakanlah: Sekiranya
lautan jadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah
lautan itu sebelum habis ditulis kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan
tambahan sebanyak itu.” [Al Kahfi:109]
“Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’:176]
10. Hayaat (Hidup)
Allah itu Hayaat
(Maha Hidup). Tidak mungkin Tuhan itu Maut (Mati). Jika Tuhan mati, maka
bubarlah dunia ini. Tidak patut lagi dia disembah. Maha Suci Allah dari
kematian/wafat.
“Dan bertawakkallah
kepada Allah yang hidup kekal Yang tidak mati…” [Al Furqaan:58]
11. Sama’
(Mendengar)
Allah bersifat Sama’
(Maha Mendengar). Mustahil Tuhan bersifat Shomam (Tuli).
Allah Maha
Mendengar. Mustahil Allah tuli.
“… Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al Baqarah:256]
12. Bashor (Melihat)
Allah bersifat
Melihat. Mustahil Allah itu ‘Amaa (Buta).
“Sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang
kamu kerjakan.” [Al Hujuraat:18]
Hikmah: takut
berbuat dosa karena Allah selalu melihat kita
Lebih jauh tentang
Sifat Bashor bisa anda lihat di:
http://media-islam.or.id/2010/05/04/allah-maha-melihat-bashor
13. Kalam
Allah bersifat Kalam
(Berkata-kata). Mustahil Allah itu Bakam (Bisu)
“…Dan Allah telah
berbicara kepada Musa dengan langsung” [An Nisaa’ 164]
Jika kita meyakini
ini, tentu kita tidak akan menyembah berhala yang tidak bisa bicara sebagai
Tuhan [Al Anbiyaa’ 63-65]
Demikianlah
sifat-sifat Allah yang penting yang wajib kita ketahui agar kita tahu mana
Tuhan yang asli dan mana yang bukan.
Jika sifat-sifat
Tuhan itu kita pahami dan yakini, niscaya kita tidak akan menyembah 3 Tuhan
atau Tuhan yang Mati atau Tuhan yang Lemah, dan sebagainya. Kita hanya mau
menyembah Allah yang memiliki sifat-sifat di atas dengan sempurna.
Ada pun sifat-sifat
ke 14-20 sesungguhnya merupakan bentuk Subyektif/Pelaku dari Sifat nomor 7-13
yaitu:
14. Qoodirun: Yang
Memiliki sifat Qudrat
15. Muriidun: Yang
Memiliki Sifat Iroodah
16. ‘Aalimun: Yang
Mempunyai Ilmu
17. Hayyun: yang
Hidup
18. Samii’un: Yang
Mendengar
19. Bashiirun: Yang
Melihat
20. Mutakallimun:
Yang Berkata-kata
Insya Allah semua
sifat-sifat Allah itu berdasarkan dalil Al Qur’an yang kuat jadi harus kita
yakini kebenarannya. Ilmu Tauhid ini begitu penting. Sebab itu cetaklah dan
sebarkanlah pada keluarga dan teman-teman anda untuk memperkuat aqidah mereka.
Sebagai manusia
tentu tulisan ini tak lepas dari lupa dan salah. Insya Allah perbaikan dan
penyempurnaan bisa anda dapatkan di www.media-islam.or.id
Silahkan lihat juga:
http://media-islam.or.id/category/iman/iman-kepada-allah
Baca selengkapnya
di:
http://media-islam.or.id/2009/11/08/sifat-20-allah-yang-penting-dan-wajib-kita-ketahui/
Ilmu Tauhid (Aqidah/Iman)
Reviewed by muhammad ajib
on
17.32
Rating:
Tidak ada komentar: