Meyakini Tuhan
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذى شهدت بوجوده الكائنات ونطقت
بوحدانيته الارض والسماوات العالم بما تكنه الصدور المطلع على خفيات
الامور المنزه عن الشبيه والنظير والمعين والوزير ليس كمثله شء وهو السميع
البصير والصلاة والسلام على خاتم الانبياء والمرسلين المبعوث رحمة
للعالمين سيدنا محمد واله سفن النجاة واصحابه البررة الهداة وسلم تسليما
كثيرا
(اما بعد)
Terjemahan Teks Kitab:
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah Dzat yang
eksistensinya dapat disaksikan melalui ciptaan-Nya. Dzat yang seluruh
bumi dan langit senantiasa bersaksi atas keesaan-Nya. Dzat yang
mengetahui apapun yang tersimpan di hati. Dzat yang mengawasi segala
sesuatu yang samar. Tidak ada satupun yang menyerupai dan menyamai-Nya.
Dzat yang tidak membutuhkan partner yang membantu maupun kawan.yang
menolong. Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupainya dan Dia Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan
kepada Penutup para Nabi dan Rasul. Seorang yang diutus untuk
menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Baginda kita Muhammad SAW dan
keluarganya yang laksana bahtera keselamatan, dan juga kepada para
sahabatnya yang mulia-mulia lagi mendapatkan petunjuk. Semoga
keselamatan selalu mengiringi mereka.semuanya (Amma Ba’du)
Meng-Esakan Allah
Oleh: Ahmad Fauzi
Kesadaran Diri
Manusia mulai menyembah Tuhan manakala
mulai muncul kesadaran akan dirinya. Maksudnya adalah kesadaran bahwa
dirinya adalah manusia yang diciptakan oleh Sang Pencipta bukan manusia
yang ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya. Kesadaran
diri inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk beribadah dan taat
kepada Tuhannya. Tanpa adanya kesadaran diri maka manusia tidak
memiliki keinginan untuk menyembah kepada Tuhan.
Kesadaran diri manusia baru tercapai bila
mengetahui siapa dirinya? Apakah dirinya diciptakan atau menciptakan
sendiri? Oleh karena itulah dalam salah satu sabdanya Nabi Muhammad SAW
mengatakan:
من عرف نفسه فقد عرف ربه (الحديث)
“man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu”.
Artinya: Siapa yang
mengetahui dirinya maka dia akan mengetahui Tuhannya. Dalam sejarah
umat manusia kita bisa menganalisa bahwa awal dari penyembahan mereka
terhadap Tuhan adalah ketika mereka menyadari kekurangan dan
kelemahannya yaitu ketika menghadapi fenomena alam maupun musibah yang
menimpanya. Hal ini terjadi secara fitrah dalam artian bahwa setiap
manusia bila menghadapi sesuatu yang diluar kekuatannya kemudian
hatinya mencari-cari entitas lain yang lebih kuasa dari
dirinya, ketika setiap entitas lain yang dia mintai tolong sudah
mentok maka dia mulai menyadari secara otomatis ia akan meminta
pertolongan kepada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa hati manusia yang fitri
mengakui adanya Tuhan. Hatinya pun mengakui bahwa hanya kepada
Tuhanlah dia menyembah dan kepada-Nya pula dia meminta pertolongan.
Dalam AL-quran disebutkan:
اياك نعبد واياك نستعين (القران الكريم)
“iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”.
Artinya: Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.
Dorongan untuk Beribadah
Setelah manusia menyadari bahwa hanya
Tuhan yang pantas disembah dan yang diminta pertolongan maka lahirlah
ritual-ritual ibadah sebagai bentuk penyembahan sekaligus sarana untuk
memohon pertolongan. Fenomena ini terlihat betul dalam sejarah umat
manusia zaman-zaman terdahulu. Sehingga makin tinggi kesadaran
seseorang akan dirinya makin tinggi ketaatan dan ketundukan pada
Tuhannya, sebaliknya makin rendah kesadaran seseorang akan dirinya
makin rendah ketaatan dan ketundukannya pada Tuhan.
Dalam Al-quran kesadaran tersebut sering
diistilahkan dengan istilah شرح الصدر arti bebasnya adalah kelapangan
batin. Lawannya adalah ضيق الصدر. Sebagai contoh penggunaan istilah ini
adalah surat Al-An’am ayat 125 sebagai berikut:
فمن يرد الله ان يهديه يشره صدره للاسلام ومن يرد ان يضله يجعل صدره ضيقا حرجا كانه يصعد في السماء (الانعام:125)
“Faman yuridi allahu an
yahdiyahu yashrah shadrahu lil islam, wa man yurid an yudhillahu yaj’al
shadrahu dhayyiqan kharajan ka annahu yassha’adu fis sama”. Artinya: Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah Dia akan membukakan dadanya[1] untuk menerima Islam dan barang siapa dikehendakin-Nya menjadi sesat, Dia akan jadikan dadanya sempit dan sesak[2],
seakan-akan dia mendaki ke langit. (al-an’am 125). Dalam surat
Al-insyirah Allah kembali menggunakan istilah diatas tentunya dengan
redaksi yang berbeda perhatikan ayat berikut:
الم نشرج لك صدرك (الانشراح: 1)
“Alam nashrah laka shadraka”
Artinya: Bukankah Allah telah melapangkan
dadamu (QS Insyirah: 1). Selain dua ayat diatas masih ditemukan
istilah tersebut pada ayat-ayat lainnya.
Khatrah Samawiyah
Kesadaran ini oleh Imam Ghazali[3] dinamakan dengan istilah
خطرة سماوية من الله وتوفيق خاص الهي Khatrah samawiyah minallah wa taufiq khas ilahi[4].
Menurut Al-Ghazali yang mengutip sabda Nabi bahwa seseorang mula-mula
menerima sebuah cayaha didalam hatinya, lalu dengan cahaya tersebut
terbukalah hatinya dan merasa keluasan batin. Dengan terbukanya batin
manusia maka sejak saat itu muncullah kesadaran diri yang menuntun
kepada ketaan kepada Allah SWT.
Manusia hanya bisa menyadari bahwa Tuhan
itu ada, namun tidak mengetahui namanya meskipun mengetahui kemampuan
dan julukan-julukan-Nya. Dan sebenarnya dalam hati manusia sudah
tertanam keyakinan bahwa Tuhan itu Esa, Tidak sama dengan mahluknya,
sempurna, tidak bisa digambarkan oleh manusia dan seterusnya. Hati
inilah yang menyinarkan cahaya! Semoga Allah SWT menjadikan hati kita
lapang! Wallahu a’lam bisshawab.
[1] Dari frase membukakan dadanya inilah istilah kesadaran diri ini muncul. Lihatlah orang yang dibukakan dadanya menjadi semacam pendoron dalam melaksanakan ajaran Agama.
[2]
Kalimat Dia akan jadikan dadanya sempit dan sesak inilah sebagai lawan
daripada frase diatas, ini yang kemudian saya gunakan sebagai referensi
atas istilah ketidaksadaran manusia. Ketika manusia tidak memiliki
kesadaran maka dia akan berat menjalankan ajaran Agama.
[3]
Nama beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad
Al-Ghazali At-Thusi. Lahir di daerah Thus pada tahun 450 H dan Wafat
pada hari senin tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H. umur beliau 55 tahun.
[4] Lihat buku Minhajul Abidin Karya Imam Ghazali Cetakan Toha Putera Semarang hal 3
Meyakini Tuhan
Reviewed by muhammad ajib
on
07.08
Rating:
Tidak ada komentar: